Wisata Ke Kota Yang Jarang Mendapat Sinar Matahari

Wisata Ke Kota Yang Jarang Mendapat Sinar Matahari

sul-airport – Karena terletak di garis khatulistiwa, Indonesia mendapat banyak sinar matahari di seluruh wilayahnya. Namun durasi penyinaran matahari di Indonesia juga ideal dan tidak terlalu panas.

Meskipun beberapa negara mendapatkan waktu sinar matahari atau waktu cerah yang ideal setiap tahun, ada juga beberapa negara yang intensitas cahayanya sangat rendah, dari beberapa jam hingga beberapa hari dalam sehari tanpa sinar matahari. Alhasil, suhu di tempat ini selalu dingin, bahkan terkadang di hari yang gelap.

Jadi, apa pendapat Anda tentang tempat-tempat yang paling sedikit diterangi matahari di bumi? Ini adalah beberapa tempat yang paling sedikit terkena sinar matahari.

Wisata Ke Kota Yang Jarang Mendapat Sinar Matahari

1. Tórshavn, Kepulauan Faroe

Tórshavn, Kepulauan Faroe
Tribun Travel – Tribunnews.com

Kota terbesar di Kepulauan Faroe, dan ibu kota pulau yang dikenal sebagai Torshavn, adalah daerah yang paling tidak cerah. Daerah ini terletak di antara Skotlandia dan Islandia dan membentuk pembatas Gunung Husalin (1.138). Kaki barat laut) dan gunung Kirkjubøreyn (1.150 kaki di atas permukaan laut) di barat daya Perlu dicatat bahwa daerah tersebut hanya menerima 2 jam 24 menit sinar matahari per hari.

Jika dihitung setiap tahun, Torshavn rata-rata hanya memiliki 840 jam sinar matahari. Hal ini dikarenakan Tórshavn memiliki iklim maritim subpolar, yang berarti lingkungan di kawasan tersebut sering kali dikelilingi oleh air es dan cuacanya selalu mendung. AC seperti musim dingin ini membuat Tórshavn bersuhu maksimum 12 ° C di musim panas dan hanya 6 ° C di musim dingin. Pada saat yang sama, curah hujan tertinggi terjadi pada musim gugur dan musim dingin.

Kepulauan Faroe, juga dikenal sebagai Kepulauan Domba, adalah banyak pulau di Atlantik Utara, tepat di antara Skotlandia dan Islandia. Kepulauan Faroe dihuni oleh 18 pulau. Seperti kita ketahui bersama, nusantara ini memiliki pemandangan alam yang berbeda namun sangat menawan. Meski pulau-pulau ini sangat indah, namun masih sangat umum di mata para pelancong. Yuk intip pesona Kepulauan Faroe, destinasi yang jarang dikunjungi wisatawan.
– Sejak tahun 1948, Kepulauan Faroe telah menjadi bagian dari Kerajaan Denmark
– Seperti kita ketahui bersama, iklim di Kepulauan Faroe cenderung lembab dan intensitas curah hujannya tinggi
– Di Kepulauan Faroe, curah hujan, angin kencang, dan kabut tebal biasa terjadi. Alasan inilah yang biasanya menjadi alasan terhentinya penerbangan di wilayah tersebut
– Meski curah hujan tinggi, Kepulauan Faroe juga memiliki musim panas yang terik
– Disebut Pulau Domba karena diketahui bahwa populasi domba di Kepulauan Faroe lebih banyak daripada populasi domba!
– Di Kepulauan Faroe, deretan rumah beratap jerami menjadi pemandangan umum. Model rumah ini sudah ada sejak lama. Unik dan luar biasa!
– Bahkan diketahui populasi perempuan di Kepulauan Faroe sangat sedikit. Hal ini membuat masyarakat di sana sering mencari pasangan yang jauh dari wilayahnya, seperti di negara-negara Asia. Wah, Job Blowati punya peluang!
– Di Kepulauan Faroe, Anda bisa menikmati keindahan hijau perbukitan, danau, dan air terjun. Tenangkan mata!
– Setiap akhir pekan, Kepulauan Faroe melarang pengunjung masuk ke negaranya karena penduduk akan menjaga alam dan infrastrukturnya agar tetap terjaga.

2. Utqiagvik

Utqiagvik
Anchorage Daily News

Sekilas, kota Utgnavik tampak seperti kota Arktik lainnya. Permafrost terlihat sepanjang tahun, dan lapisan es di Kutub Utara masih membeku di bawah tanah. Namun, kota Utqiagvik adalah tempat paling terpencil di dunia. Meskipun kota ini terkenal dengan cuacanya yang ekstrim, kota ini masih menjadi rumah bagi sekitar 4.000 penduduk. Kota Utqiagvik tinggal terutama di Alaska.

Mereka pula ialah komunitas khalayak sangat utara di bumi, sebab Utqiagvik terdapat di titik sangat utara, yang menjadikannya kota sangat utara di Amerika Sindikat. Orang Utgvik bangga akan hal ini karena semboyan mereka adalah “Menjadi Kota Amerika Utara“. Utqiagvik, dahulu bernama Barrow, adalah pusat ekonomi North Slope Borough. Yang lainnya bergantung pada pekerjaan pemerintah.

Sisanya tergantung pada pekerjaan departemen pariwisata. Pertanyaannya adalah, adakah yang pernah datang ke tempat seperti itu dalam iklim yang tak tertahankan sejauh ini? Seperti kota-kota Arktik lainnya, Utgnavik pernah mengalami beberapa fenomena alam yang berkaitan dengan matahari dan siklus siang-malam. Salah satu peristiwa paling menonjol di Utqiagvik adalah matahari tengah malam. Matahari tengah malam muncul di Lingkaran Arktik di musim panas.

Saat itu matahari terbit 24 jam sehari, artinya pada tengah malam matahari sudah bisa terlihat (jika cuaca cerah). Sepanjang ini, banyak kota Arktik melangsungkan bermacam kegiatan serta pergelaran buat menarik turis yang mau merasakan momen sihir melihat mentari di malam hari. Namun, tak hanya matahari tengah malam yang menjadikan Utqiagvik sebagai objek wisata. Tidak seperti kota Alaska lainnya, Etqiagvik berada di utara, dan bahkan di musim dingin, ia mengalami malam kutub yang panjang. Satu malam bisa bertahan 65 hari.

Tahun 2018, matahari terbenam terakhir kali pada tanggal 18 November tahun itu. Setelah itu, Utgvik menghabiskan malam yang panjang, hanya untuk melihat matahari terbit pada tanggal 23 Januari. Untungnya, warga sudah terbiasa dengan malam yang panjang. Mereka menyambut matahari lagi di bulan Januari dan menantikan matahari terbit di tengah malam.

Baca Juga : Tempat Wisata Yang Ada Di Australia Yang Wajib Anda Kunjungi

3. Barrow, Amerika

Barrow, Amerika
detikTravel – Detikcom

Setiap kota di dunia memiliki daya tarik geografisnya sendiri. Begitu pula dengan kota Barrow yang juga sangat terkenal karena pernah mengalami hal-hal yang tidak biasa dan menimbulkan sensasi, kota ini telah hidup selama 67 hari tanpa sinar matahari. Fenomena ini terjadi karena letak geografisnya yang dekat dengan Kutub Utara. Kapan kota ini mengalami kejadian ini? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Tentu saja sedikit dari Anda yang bertanya bagaimana suku Eskimo yang tinggal di kota ini bisa bertahan hidup dan berpergian. Sama seperti di film, mereka bepergian dengan kereta luncur anjing. Bertahan hidup dengan berburu burung dan paus untuk memancing. Jika cuaca sedang cerah, Teman Traveler bisa melihat indahnya aurora yang menghiasi langit kota.

Jika suatu hari Anda berkesempatan untuk berkunjung ke sini, Anda tidak hanya akan menemui tumpukan salju lebat dan cuaca dingin, tetapi juga jaringan pipa minyak di sepanjang jalan. Meski kota ini kaya akan minyak dan gas bumi, nyatanya harga BBM di dalam kota masih tinggi karena minyak yang dihasilkan masih dalam bentuk aslinya sehingga perlu diangkut ke pabrik untuk diolah kembali terlebih dahulu.

Selain menjadi salah satu kota paling terpencil di dunia, tepatnya, Barrow di Alaska terletak di titik paling utara Amerika Serikat dan populer untuk malam yang panjang sekitar 67 hari. Misalkan matahari terbenam di bulan November lalu terbit lagi di bulan Januari. Banyak warga sekitar menggunakan lampu sorot untuk penerangan

Sekalipun tidak ada sinar matahari untuk hidup, itu tidak berarti bahwa kota itu benar-benar gelap dan terang. Troli masih bersinar, meski tidak secerah terik matahari tropis. Sudah beberapa jam kota ini diterangi bagai senja, sehingga warga masih bisa melihat benda-benda di sekitarnya.

4. Rjukan, Norwegia

Rjukan, Norwegia
Bobo.ID – Grid.ID

Istilah angin dari surga mungkin cocok untuk kota ini. Ini karena penduduk kota Rjukan di Norwegia dapat melihat matahari, namun cahayanya tidak pernah mencapai tanah tempat mereka tinggal. Alhasil, meski terik matahari, kota mereka tetap gelap.

Kota Rjukan merupakan fenomena unik di Norwegia. Setiap musim dingin dari September hingga Maret, kota mereka akan selalu gelap, tanpa sinar matahari. Bukan karena kota mereka dikutuk, tapi karena dikelilingi pegunungan tinggi dengan lereng yang terjal.

Tidak banyak wisatawan yang mengetahui keberadaan kota ini, karena Rjukan bukanlah kota wisata yang sering diburu wisatawan, melainkan kota industri. Bagi yang penasaran bisa datang ke kawasan Telemark yang berada di lembah Gunung Gaustatoppen. Lokasinya 2,5 jam dari Oslo. Selama enam bulan setiap tahunnya, warga Kota Rukan tak merasakan hangatnya terik matahari. Kemudian, hal ini membuat kasihan kepada pendiri kota, Sam Eyde. Pada tahun 1913, ia mendapatkan ide cemerlang dengan mendesain cermin raksasa di atas gunung, yang kemudian memantulkan sinar matahari ke tengah kota.

Sayangnya, karena kendala biaya dan keterbatasan teknis, ide ini tidak pernah terwujud. Sekali lagi, warga saat itu harus rela naik kereta gantung ke puncak gunung untuk merasakan hangatnya sinar matahari. Pemasangan cermin baru terealisasi pada tahun 2013. Itu adalah aktor Martin Andersen (Martin Andersen), dia bekerja di pembangkit listrik tenaga air.

Dia memasang cermin seluas 17 meter persegi di lereng bukit setinggi 450 meter dan memantulkan cahaya ke kota seluas 600 meter persegi itu. Cermin tidak menyerap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik, dan cermin hanya memantulkan cahaya untuk penerangan. Meski kaca reflektif kini sudah terpasang, kota ini masih belum sebaik sinar matahari langsung. Namun setidaknya warga tidak harus berjemur di bawah sinar matahari untuk mendaki tebing. Bagi yang ingin merasakan pengalaman wisata yang unik, bisa mengunjungi kota ini.

Baca Juga : Wisata Ke Pantai Karang Bolong Yang Menawan Di Dunia

5. Chongqing, Cina

Chongqing, Cina
Wikipedia

Chongqing adalah kota yang populer di Cina barat daya dan salah satu kota terpadat di Cina. Kota ini memiliki iklim subtropis yang lembab, dengan kondisi iklim yang sangat lembab hampir sepanjang tahun. Karena terletak di Cekungan Sichuan, jumlah hari di kota ini sangat rendah, dengan hanya 1.054 jam sinar matahari per tahun. Chongqing memiliki jumlah sinar matahari paling sedikit di bulan Desember dan Januari, sebesar 8%, dan Agustus memiliki jumlah sinar matahari tertinggi, yaitu 48%.

Sejak ditemukan 3000 tahun yang lalu, kota ini telah mengalami beberapa kali perubahan nama, seperti Jiangzhou, Yuzhou dan Gongzhou, hingga akhirnya dinamai oleh Chongqing sekitar 800 tahun yang lalu. Di Chongqing, China, Anda bisa melihat Pahatan Batu Dazu Sejak masa pemerintahan Dinasti Tang (650 tahun), sudah ada ribuan pahatan batu. Anda dapat melihat Aula Besar Rakyat dan menghargai gaya arsitektur Dinasti Ming dan Qing. Di malam hari, Anda akan melihat pemandangan yang sangat indah karena bangunan akan diterangi oleh pancaran cahaya yang indah. Di waktu yang sama, di Museum Tiga Ngarai China Chongqing, Anda dapat melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan budaya dan sejarah Chongqing. Anda bisa menikmati pemandangan spektakuler di Karst Wulong, salah satu situs warisan alam dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2007.

Anda bisa melakukannya di sini, yaitu berlayar menyusuri Sungai Yangtze untuk menikmati semua pemandangan yang indah. Anda bisa memilih paket river tracking yang sudah tersedia. Anda bisa berendam di pemandian air panas di Southern Hot Spring Park. Bersamaan dengan itu, di taman pemandian air panas bagian utara, selain berendam di air panas, Anda juga bisa berjalan-jalan di taman ini dan menemukan pura, gua, serta berbagai tumbuhan dan hewan. Anda juga bisa berbelanja dan berjalan-jalan di desa kuno bernama Ci Qi Kou yang disebut Desa Porselen. Di sini, Anda bisa menemukan berbagai macam toko, mulai dari restoran, kedai teh, toko jam tangan antik hingga toko suvenir.

Masakan Chongqing sangat dipengaruhi oleh masakan Sichuan. Kota ini juga merupakan tempat kelahiran hot pot Tiongkok. Oleh karena itu, Anda bisa menikmati segala jenis hot pot yang menggiurkan di kota ini. Nikmati daging kelinci tusuk gigi yang renyah yang terbuat dari daging kelinci, dimasak hingga renyah. Kue Madu Xiangshan yang terbuat dari tepung dan madu ini memiliki rasa yang renyah, lembut dan manis, menjadi ciri khas Chongqing yang wajib Anda coba. Selain itu, ada banyak kuliner khas yang tidak boleh dilewatkan di Chongqing, seperti iga ketan, daging bebek asap, mie Dan pedas, bakpao kukus Jiuyuan, dll.

6. São Joaquim, Brasil

São Joaquim, Brasil
Wikipedia

São Joaquim terletak di negara bagian Santa Catarina di Brasil selatan. Kota yang terletak di ketinggian 1.360 meter ini mengalami dataran tinggi yang beriklim subtropis karena berada di dataran tinggi. Faktanya, São Joaquim sejuk di musim panas dan dingin di musim dingin. Kota ini rata-rata menerima sinar matahari 1.055 jam per tahun. Bulan terpanas adalah Januari dengan suhu rata-rata 17 derajat Celcius, dan bulan terdingin adalah Juli dengan suhu rata-rata 9 derajat Celcius.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
0Shares
0 0