Wisata Budaya Di Indonesia Yang Populer, Unik dan Pastinya Mengagumkan

Wisata Budaya Di Indonesia Yang Populer, Unik dan Pastinya Mengagumkan

hot liputan6.com

sul-airport – Wisata budaya Indonesia memiliki keanekaragaman yang sangat unik. Apalagi Indonesia memang terkenal dengan keanekaragaman budayanya dari sabang sampai merauke. Keragaman budaya ini tidak hanya menarik perhatian orang Indonesia, tetapi juga menarik perhatian asing.

Berbagai bangunan bersejarah, tradisi dan atraksi wisata budaya di Indonesia dapat Anda temukan. Bahkan tidak jarang Anda menemukan perjalanan budaya yang lengkap dengan pemandangan yang indah, bangunan bersejarah, dan atraksi budaya yang menakjubkan.

Wisata budaya di Indonesia bisa menjadi pilihan untuk menikmati liburan, tentunya ini menjadi liburan yang tak terlupakan. Selain bersenang-senang di tempat baru, Anda juga bisa belajar berbagai pelajaran dari budaya masyarakat setempat. Berikut ini kami rangkum beberapa wisata budaya di Indonesia yang populer, unik dan pastinya mengagumkan.

Wisata Budaya Di Indonesia Yang Populer, Unik dan Pastinya Mengagumkan

1. Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Jurnal Palopo – Pikiran Rakyat

Wisata budaya Tanatolaha merupakan tujuan wisata paling populer di Sulawesi Selatan, dan disebut sebagai obyek wisata budaya dunia oleh wisatawan mancanegara. Tana Toraja terkenal dengan kekayaan budayanya (rumah adat Tongkonan, upacara penguburan soliter Rambu, kuburan gua Londa, kuburan batu lemo dan kuburan bayi Kambira).

Tana Toraja terletak sekitar 350 kilometer sebelah utara Makassar, Untuk Tana Toraja bisa menggunakan penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. Hanya membutuhkan waktu 45 menit dari Bandara Hasanuddin ke Mengas. Bisa juga ditempuh dengan kendaraan darat yang memakan waktu tujuh jam. Berkendara melalui jalur darat dari Bangladesh (Makassar), sebelum memasuki Kabupaten Enrekang (Kabupaten Enrekang) memiliki ciri khas dan keindahan Gunung Buttu Kabobong yang terlihat seperti mahkota dewi yang sakral (kata kiasan).

Beberapa hal budaya menarik di Tana Toraja ini:
– Terdapat Rumah Adat Tongkonan
Rumah adat ini disebut Tong Kong Nan. Atapnya terbuat dari nipah atau daun kelapa dan bisa digunakan selama puluhan tahun. Menurut kalangan bangsawan, Tongkonan juga memiliki strata (strata emas, perunggu, besi dan kuningan).
– Desa Adat Pallawa
Desa adat Pallawa merupakan desa yang khas, masih terdapat 11 rumah khas Toraja dan 15 lumbung padi Toraja.
Rumah beratap bambu ini memiliki sejarah ratusan tahun dan masih dalam perawatan.Penataan tanduk kerbau di bagian depan rumah sangat eye catching, dan deretan gigi babi di dekat plafon juga sangat eye catching. . Halaman rumah. Penataan tanduk kerbau menunjukkan kelas sosial dari pemilik rumah, karena sering melakukan upacara adat maka orang yang lebih kaya memiliki tanduk. Pada saat yang sama, Zhuya menunjukkan bahwa rumah tersebut dirayakan dengan perayaan Thanksgiving tradisional. Peninggalan budaya megalit juga bisa Anda temukan di Boriparinding, yang pesona dan kekokohannya terpancar di antara puluhan megalit.
– Kawasan pemakaman/Kuburan Gua Londa
Londa adalah kompleks makam kuno yang terletak di dalam sebuah gua.
Di luar gua, ada boneka kayu Toraja.
Boneka adalah tiruan atau miniatur jenazah yang dikuburkan di sana.
Versi miniatur hanya cocok untuk bangsawan dari kelas sosial yang lebih tinggi, tetapi warga biasa tidak mau membangun patung. Makam gua Londa Tana Toraja adalah makam yang berada di sisi tebing batu yang terjal.Sisi makam terletak di ketinggian puncak gunung dan memiliki gua yang dalam.Pi-peti mati tersebut disusun dan dikelompokkan sesuai dengan silsilah keluarga. Di sisi lain, ada puluhan kepala banteng berdiri diam di balkon, wajah mereka terlihat seperti hidup, dengan mata terbuka, memandang mereka dengan bermartabat.
– Kawasan pemakaman / Kuburan Batu Lemo
Di sini, jenazah ditempatkan di sebuah gua di dinding batu.
Dulu, orang mengukir di tebing selama bertahun-tahun untuk menanam mayat di dalamnya. Semakin tinggi posisi peti, semakin tinggi pula kelas sosialnya. Di Kuburan Batu Lemo Tana Toraja, Anda bisa melihat serambi tau-tau di atas permukaan bebatuan yang terjal, menghadap ke lingkungan alam terbuka.
– Upacara Adat
Ritual adat, seperti “Pemakaman” (Rambu Solo) dan “Upacara Syukur” (Rambu Tuka), merupakan momen yang unik dan sangat menarik. Selain itu, juga disebut upacara “Ma’nene” Ritual budaya, seni dan tradisional Kabupaten Tanatolaha ada di setiap daerah, namun waktu pastinya tidak pasti. Karena upacaranya melibatkan seluruh keluarga, biasanya dilaksanakan pada saat hari raya agar seluruh keluarga dapat berkumpul. Rambu Solo ‘, yaitu upacara adat penguburan leluhur dengan Sapu Randanan dan Tombi Saratu. Dan upacara Rambu Tuka. Upacara Rambu Tuka “dan Rambu Solo” berlangsung beberapa hari dengan tarian dan musik tradisional Toraja. Rambu Tuka ‘adalah upacara memasuki rumah adat baru yang disebut Tongkonan, atau rumah yang telah direnovasi selama 50 tahun. Upacara ini juga disebut Ma’Bua ‘, Meroek atau Mangrara Banua Sura’.

2. Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur

Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur
Travel Kompas

Terletak di Desa Wae Rebo di Flores, di ketinggian 1.200 meter, bagaikan surga di atas awan. Untuk sampai ke sana memang melelahkan, tetapi apa yang Anda dapatkan ketika Anda sampai di lokasi sebanding dengan perjalanan yang telah Anda lalui. Perpaduan pemandangan alam berupa pegunungan dan 7 rumah tradisional berbentuk kerucut akan meninggalkan kesan tersendiri pada setiap pengunjung Desa Wae Rebo.

Bisa menyebut Wae Rebo desa terindah di Indonesia, sama sekali tidak ada sinyal handphone di desa ini. Dari segi pariwisata, Desa Verebo dikelola dengan baik karena desa tersebut didampingi oleh Jejaring Ekowisata Indonesia dan memberikan pembinaan pariwisata. Tujuannya untuk mengembangkan desa-desa yang sebelumnya terabaikan oleh desa wisata yang ingin dikunjungi banyak orang. Wisatawan yang ingin mengunjungi Desa Wae Rebo di Flores harus memulainya dari Rutten. Jika Anda berangkat dari Denpasar (Bali), Anda bisa terbang langsung ke Luden. Jika tidak ada penerbangan ke Ruteng, Anda bisa naik bus atau perjalanan dari Labuan Bajo, ibu kota Bupati Mangalai Barat, yang memakan waktu sekitar 6 jam. Sehabis hingga di Ruteng ekspedisi dilanjutkan mengarah dusun Denge ataupun Dintor sepanjang kurang lebih 2 jam, ialah dusun terakhir yang dapat ditempuh dengan mobil.

Ada pula prasarananya, terdapat keluarga ambil di Dusun Deng yang dapat dipakai buat menginap. Terdapat pusat data serta bibliotek tidak jauh dari keluarga ambil. Sesampainya di Dusun Wae Rebo, bila mau menginap dapat mengutip rumah adat warga dekat. Tidak terdapat keluarga ambil ataupun hotel spesial di mari, sebab cuma terdiri dari 7 rumah konvensional.

Selain pemandangannya yang indah, sesampainya di Desa Wae Rebo kita akan disambut dengan hangat oleh masyarakat. Di sini kita bisa menemukan rumah adat yang hanya terdiri dari 7 buah dan bertahan selama 19 generasi. Hal ini pun menjadi daya tarik wisatawan, terutama wisatawan dari luar negeri. Mereka biasanya penasaran ingin melihat langsung rumah adat bernama Mbaru Niang ini. Terbuat dari bahan kayu yang ditenun dengan atap jerami. Bentuk Mbaru Niang berbentuk kerucut ke atas yang merupakan bangunan tradisional yang sangat unik.

Tujuh Mbaru Niang berkumpul di atas lahan hijau yang luas dikelilingi perbukitan yang asri, udaranya masih sangat sejuk karena dikelilingi hutan. Desa Wae Rebo memiliki sejarah yang panjang, sehingga tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2012.

Selain rumah adat paling menarik, kehidupan masyarakat juga sangat menarik. Beberapa orang bertani, sementara wanita menenun. Ada pula perkebunan kopi yang biasanya menyuguhkan kopi khas Flores yang enak bagi pengunjung. Perpaduan kearifan budaya lokal dan 7 rumah adat di atas bukit hijau menjadikan tempat ini seperti surga di atas awan. Namun hal ini sangat disayangkan, bahkan meski sudah sangat terkenal di luar negeri masih asing di telinga masyarakat Indonesia bahwa tempat ini masih tetap indah.

Baca Juga : Wisata Festival Lampion Di Asia

3. Pura Uluwatu, Bali

Pura Uluwatu, Bali
Travel Tempo.co

Lokasinya yang berada di atas batu karang yang menjorok ke laut menjadikan Pura Luhur Uluwatu sebagai pura indah favorit para wisatawan. Dari tempat ini pengunjung juga bisa melihat keindahan tebing bebatuan yang sangat menakjubkan. Apalagi sejauh mata memandang, wisatawan akan dikagumi keindahan birunya samudra. Tak hanya itu, traveller juga akan bisa menemukan peselancar dan bermain di ombak yang jauh dari pura. Momen terbaik untuk menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan di tempat ini adalah saat menjelang matahari terbenam. Pengunjung juga bisa melihat indahnya matahari terbenam dari sisi tebing yang mengelilingi pura.

Pura Luhur Uluwatu yang terletak di atas 97 meter di atas permukaan laut ini memang memiliki keunikan tersendiri. Selain itu, di depan pura terdapat hutan hijau kecil bernama Alas Kekeran (Alas Kekeran). Hutan tersebut disebut sebagai zona penyangga pura oleh masyarakat Bali.

Pura ini bernama Pura Sad Kayangan dan dianggap oleh umat Hindu di Bali sebagai zona penyangga dari 9 mata angin. Dulunya tempat ini merupakan tempat peribadatan Empu Kuturan. Lalu ada Dang Hyang Nirartha, yang akhirnya menjadi biksu atau nenek moyang kuil ini. Dari situlah diperoleh nama Pura Luhur Uluwati.

Pura Luhur Uluwatu terletak di desa Pecatu, yang merupakan bagian dari distrik Kuta Selatan di Kabupaten Padang Bali. Lokasi Pura Uluwatu sangat ramai sehingga fasilitas penunjang disana sangat lengkap. Tak hanya kondisi jalannya yang nyaman, para pelancong juga bisa menemukan berbagai tempat menginap di sini. Daya tarik lain untuk dikunjungi di sini adalah Tari Kecak, tarian tradisional Bali. Di sini pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan tari Kecak yang biasanya dimulai pada pukul 18.00 WITA.

Suasana romantis Pura Luhur Uluwatu pada malam hari memungkinkan pengunjung menyaksikan pertunjukan tari Kecak Uluwatu ini yang menambah daya tariknya. Wisatawan biasanya berbaris di samping gerakan para penari. Pertunjukan berlangsung selama 1 jam, mulai pukul 18.00 WITA hingga 19.00 WITA.

4. Desa Penglipuran, Bali

Desa Penglipuran, Bali
Wira Rental Mobil Bali

Desa Penglipuran Bangli merupakan kawasan pedesaan yang menjadi simbol desa wisata Bali, objek ini memang menjadi tujuan para wisatawan domestik maupun mancanegara. Lokasi ini sangat mudah dicapai melalui jalur utama Bangli dan Kintamani, tepatnya 45 kilometer dari Denpasar. Kubu, Kabupaten Bangli. Terletak di sebelah utara Kota Bangli dan memiliki objek wisata Pura Kehen.

Memang sangat cocok untuk mengembangkan Desa Punglipuram di Bangli menjadi kawasan wisata, karena memiliki budaya dan tradisi yang unik, serta memiliki suasana yang asri, nyaman, bermanfaat dan sejuk, karena berada di dataran tinggi 700 mdpl di Desa Peng Lipland, terlihat hijau dan asri, desa ini masih mempertahankan budaya dan tradisi nenek moyangnya dalam proses kemajuan dan modernisasi.

Memasuki wilayah desa Penglipuran Bangli terdapat sebuah perbatasan desa yang disebut Catus Pata, dimana terdapat ruang terbuka seperti taman, dan balai desa menyambut anda. Kendaraan dilarang memasuki kawasan pemukiman, dan disediakan tempat parkir khusus untuk wisatawan, kita bisa masuk ke kediaman tradisional ini dengan membeli tiket seharga 7.500 rupiah, dan orang asing bisa mendapatkan 50.000 rupiah. Hingga saat ini, menjaga budaya yang berkelanjutan sudah tepat. Kabupaten Bangli memang menawarkan wisatawan banyak hal yang unik dan berbeda, termasuk Desa Penglipuran, Desa Trunyan dan Pura Langgar (perpaduan budaya Hindu dan Islam di lingkungan pura).

Di desa Penglipuran Bali, satu-satunya rumah tradisional Bali yang masih bisa ditemukan hingga saat ini telah tertata dan terawat dengan baik. Dalam proses modernisasi dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat Desa Bangli, Punri Prang, tetap dapat menjaga tatanan warisan budaya leluhurnya. Rumah mereka identik satu sama lain dan terbuat dari bahan yang sama, seperti dinding, penyangga tanah, dan atap bambu. Bambu di sini sangat makmur dan telah diawetkan untuk pembangunan rumah dan pemakaman.

Baca Juga : Wisata Paling Populer Yang Ada Di Flores

5. Loncat Batu, Nias, Sumatra Utara

Loncat Batu, Nias, Sumatra Utara
CNN Indonesia

Siapapun pasti penasaran saat menginjakkan kaki di Pulau Sumatera Utara. Saat wisatawan tiba di Bandara Binaka Gunung Sitoli, mereka langsung bisa melihat omo hada (rumah adat), tari baluse (tari perang) dan hombo batu (lompat batu) yang dulunya dihias dengan rupiah.

Salam sehari-hari warga setempat “Yaahowu” yang ditulis dengan huruf kapital di tengah foto para pejabat daerah, membantu mengantarkan wisatawan dari Bandara Binaka menuju desa wisata Bawomataluo. Bawomataluo merupakan istilah perbukitan matahari dalam bahasa Nias, menurut lokasinya dibangun di atas bukit pada ketinggian 324 meter dan memiliki sejarah beberapa abad. Untuk mencapai Desa Tiaoshi, dibutuhkan waktu 3 jam dari Bandara Binaka di Gunung Sitoli atau 40 menit dari Teluk Dalam, ibu kota Kabupaten Naniyas. Sedikitnya seribu keluarga tinggal di desa Bawomataluo. Masyarakat di sana sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai-nilai nenek moyang mereka. Berbagai warisan budaya yang dimiliki nenek moyang Nias masih dijaga dan dijaga dengan baik.

Beberapa di antaranya adalah omo hada yang juga dikenal sebagai rumah adat tradisional, terbuat dari kayu, namun tanpa paku terdapat situs megalitik, tarian yang diawetkan, tempat lompat batu, disebut juga batu kombinasi. Tak heran, tempat wisata tersebut menarik wisatawan untuk singgah di desa puncak bukit ini. Penduduk yang tinggal di daerah tersebut terus melestarikan budaya Bawomataluo dari generasi ke generasi, dan rumah adat di daerah tersebut juga telah diwariskan kepada anak cucu mereka. Begitu memasuki kawasan desa Bawomataluo, wisatawan biasanya menjadi seorang pemuda bersama salah satu anak mudanya, dan mereka mencari nafkah dengan menjadi tour operator di desa yang terkenal dengan keindahan matahari terbitnya.

Selain terkenal dengan tempat lompat batunya, desa ini juga terkenal dengan gaya arsitektur dan patung kuno nya. Karenanya, pemandu biasanya mengajak wisatawan untuk berkunjung ke desa tersebut. Jika beruntung, Anda akan berada di sana selama upacara adat sehingga Anda bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
0Shares
0 0